Adab Belajar dan Mengajar

                Belajar merupakan kewajiban setiap muslim. Berdasarkan hadis dari Anas bin Malik RA, Nabi SAW, beliau bersabda, “Mencari ilmu itu fardhu (Wajib) atas setiap Muslim” (HR Ahmad dan Ibn Majjah). Hal ini membuktikan betapa pentingnya menuntut ilmu. Ilmu merupakan hal pokok yang melandasi seluruh amalan dalam Islam. Seseorang ahli ilmu memiliki kedudukan lebih dibanding ahli ibadah, sesuai dengan hadist Nabi SAW dari Abu Umamah RA, Nabi SAW bersabda “Kelebihan orang yang berilmu atas ali ibadah, sama dengan kelebihanku atas orang yang paling hina diantara kalian.” Hal ini bisa terjadi apabila seorang ahli ibadah yang  dalam melakukan amalan tidak memiliki ilmu sehingga mengakibatkan amalannya tidak sempurna. Oleh sebab itu, tradisi keilmuan sangat ditekankan dalam Islam.
                Sebelum melakukan belajar mengajar dalam Islam, tentu saja seorang tholabul ilmi harus mendahulukan adab terlebih dahulu. Akhalaq seorang guru merupakan hal utama yang diperhatikan oleh murid sebelum diambil ilmunya. Hal ini disebabkan seorang murid tidak hanya mengambil ilmu dari sang guru, tetapi seorang murid akan senantiasa menjadikan guru mereka sebagai teladan untuk dicontoh sikap dan perilakunya. Sehingga perlu seleksi ketat terhadap seorang ulama. Sebaliknya seorang guru juga harus menunjukkan akhlaq yang baik terhadap seorang murid.
                Ibnu Qudamah dalam buku Minhajul Qashidin memberikan gambaran akhlaq antara guru dan murid yang baik sehingga menyebabkan ilmu yang diberikan menjadi berkah bagi keduanya.
Ali ibn Abi Thalib RA berkata, “Diantara hak orang berilmu (Guru) atas dirimu (Murid) adalah
-          Hendaklah engkau mengucapkan salam kepada semua yang hadir (dlm majelis)
-          Memberi salam hormat secara khusus kepadanya
-          Duduk dihadapannya
-          Tidak menunjuk dengan tangan ke arahnya
-          Tidak memandang secara tajam kepadanya
-          Tidak terlalu banyak mengajukan pertanyaan
-          Tidak membantunya dalam memberikan jawaban
-          Tidak memaksanya jika dia letih
-          Tidak mendebatnya jika dia tidak menginginkannya
-          Tidak memegang bajunya jika dia hendak bangkit
-          Tidak membocorkan rahasianya
-          Tidak menggunjingnya dihadapan orang lain
-          Tidak mencari-cari kesalahannya
-          Jika dia salah bicara harus dimaklumi
-          Tidak boleh berkata di hadapannya, “kudengar fulan berkata begini, yang berbeda dengan pendapatmu.”
-          Jangan katakan dihadapannya bahwa dia adalah seorang ulama
-          Jangan terus-menerus menyertainya
-          Jangan sungkan-sungkan untuk berbakti kepadanya
-          Jika diketahui dia mempunyai suatu keperluan, maka keperluannya harus segera dipenuhi
Kedudukan dirinya seperti pohon qurma, sedangkan engkau menunggu-nunggu apa yang akan jatuh darinya.”

Tugas guru diantaranya:
-          Menyayangi murid
-          Menuntunnya seperti menuntun anak sendiri
-          Tidak meninta imbalan uang
-          Tidak mengharapkan balasan dan ucapan terimakasih
-          Dia harus mengajarkan ilmu karena mengharap ridha Allah
-          Tidak melihat dirinya lebih hebat dari murid-muridnya, tetapi dia mau melihat bahwa adakalanya mereka lebih utama jika mereka mempersiapkan hatinya untuk bertaqarrub kepada Allah dnegan cara menanam ilmu di dalam hatinya
-          Marus melihat bahwa murid adalah seperti sepetak tanah yang siap ditanami
-          Tidak selayaknya bagi guru untuk meminta balasan kecuali dari Allah semata
-          Bahkan orang-orang salaf menolak jika ada murid yang memberinya hadiah
-          Guru tidak boleh menyimpan nasihat yang seharusnya diberikan kepada murid, walaupun sedikit
-          Harus memperingatkannya dari akhlaq buruk dengan cara yang sehalus-halusnya
-          Dan tidak boleh mendampratnya, karena dampratan justru akan mengurangi pamor dirinya
-          Tidak boleh menyampaikan pelajaran di luar kesanggupan akalnya
-          Guru harus berbuat sesuai dengan ilmunya, tidak mendustakan antara perkataan dan perbuatan (QS Al Baqarah 44)

Nabi SAW bersabda, “Aku diperintahkan untuk berbicara dengan manusia menurut kadar pemikiran mereka.” (Shahih Bukhari 1/199, sebagai catatan pinggir dalam masalah ilmu, bab orang yang menyampaikan ilmu khusus kepada orang lain, yang dikhawatirkan mereka tidak memahaminya, yang berasal dari perkataan Ali Ibn Abi Thalib RA)
Asy-syafi’y berkata, “Apakah aku harus menebar mutiara di tempat penggembalaan binatang, dan menata apa yang sudah ditebar bagi penggembala? Siapa yang menyampaikan ilmu kepada orang-orang yang bodoh, maka akan menyia-nyiakan ilmu itu, dan siapa yang tidak menyampaikan ilmu kepada orang yang layak menerimanya, maka dia telah berbuat dhalim.”

Ali Ibn Abu Thalib berkata, “Punggungku terbelah gara-gara dua orang, yaitu orang berilmu ynag terbuka aibnya dan orang bodoh yang menjadi ahli ibadah.”

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Akuntansi Islam