Wasail Ad-Da’wah

Sumber
Judul                : Da’wah dan Hati (hal 49)
Judul Asli        : At’Thariq ila al Quluub
Penulis             : Abbas As-Sissiy
Alih bahasa      : Muhil Dhofir,Lc

            Seorang teman berkata bahwa ia merasa dirinya tidak punya kemampuan untuk berdakwah, karena dia bukan eorang faqih dan bukan seorang yang tahu banyak tentang metode dakwah. Adapun hadist-hadist Rasulullah SAW yang berkaitan dengan dakwah yang telah dibaca adalah merupakan sebuah barakah. Ia harus berbuah dan buah barakah adalah produktivitas.
Rasulullah SAW bersabda, “Senyummu pada wajah saudaramu adalah sedekah”(HR Tirmidzi). Hal ini apabila dipraktekkan dalam sebuah masyarakat akan menjadikan masyarakat muslim yang berwajah cerah dan saling mencintai. Allah juga pernah menegur Rasulullah ketika beliau bermuka masam ketika bertemu dengan Abdullah Ibnu Ummi Maktum RA. Allah berfirman,
“Dia (Muhammad) bermuka masam dan berpaling, karena telah datang seorang buta kepadanya. Tahukah kamu barang kali ia ingin membersihkan dirinya (dari dosa).” (QS ‘Abasa: 1-3). Hal ini menunjukka wasilah yang harus diterapkan oleh para da’i dalam berdakwah.
Diriwayatkan oleh Imam Muslim, dari Rasulullah SAW bahwa sesungguhnya beliau bersabda, “Hak seorang muslim terhadap muslim lainnya ada enam: Jika bertemu maka berilah salam, jika tidak kelihatan maka anda harus mencari tahu, jika sakit maka jenguklah, jika mengundang maka penuhilah, jika bersin dan mengucapkan hamdallah maka jawablah (ucapkan ‘yarkhamukallah’), dan jika meninggal dunia maka antar jenazahnya”
1.      Jika bertemu ucapkan salam
Ucapan salam adalah langkah pertama dalam dakwah. Ucapan harus disertai dengan perasaan cinta, senang dan wajah berseri agar fungsi ucapan terwujud. Setelah itu bisa berkenalan secara lebih detail.
2.      Jika tidak kelihatan maka anda harus mencari tahu
Watak sebuah perkenalan adalah jika seorang yang telah anda kenal itu tak anda lihat dalam waktu tertentu, maka anda harus mencari keadaannya dengan menghubunginya dengan cara apapun.
3.      Jika sakit maka jenguklah
Ketika saudara kita sakit maka kita diharuskan menjenguk. Hal tersebut dapat membuat saudara kita merasa senang apalagi jika diberi hadiah.
“ Hendaklah kalian saling memberi hadiah, karena itu akan menjadikan kalian saling mencintai” (HR Malik dalam Al Muwatha’)
            Dari Abu hurairah RA, dari Rasulullah SAW, beliau bersabda,
“Barang siapa yang menjenguk orang sakit atau mengunjungi saudaranya sesama musim –karena Allah- maka malaikat akan berseru kepadanya, “Kamu dalam keadaan baik dan baik pula tempat tujuanmu serta kamu akan ditempatkan disurga.” (HR Muslim)
4.      Jika mengundang maka penuhilah
Tahapan hubungan semakin erat yaitu ketika teman kita ketika dalam keadaan-keadaan penting seperti: Sukses dalam tugas, perikahan atau lainnya, lalu ia mengundang kita untuk hadir maka kita harus memenuhinya karena ini adalah kesempatan berharga yang tersedia tanpa harus anda rencanakan sebelumnya. Begitu pula sebaliknya, kita juga perlu mengundang mereka dalam acara-acara penting kita.
5.      Jika bersin dan mengucapkan hamdallah maka jawablah dengan ucapan ‘yarhamukallah’
Ketika kita berada dalam sebuah tempat, baik itu diperjalanan, pesta atau menjenguk orang sakit, kemudian ada yang bersin dan kita ucapkan ‘yarhamukallah’ (mudah mudahan Allah merahmati anda). Tentu ini akan menjadi sesuatu yang baru dan setelah itu kita bisa berkenalan dan bercakap-cakap dengannya.
6.      Jika meninggal dunia maka antar jenazahnya
Pada hakekatnya mengantar orang lain yang meninggal  ke tempat pemakaman adalah mengantar dirinya sendiri. Hal ini menyebabkan kita dapat jadikan sebagai nasihat, dengan mengambil pelajaran dan merenung. Hal ini dapat juga menjadikan hubungan kita dengan keluarga saudara kita yang meninggal terjaga dengan kita berkenalan dengan keluarganya.
Dari Abu Hurairah RA, Rasulullah SAW bersabda,
“Barang siapa yang menghadiri jenazah hingga mensholatinya, maka baginya pahala satu qirat, dan barang siapa yang menyaksikan hingga dimakamkan maka baginya pahala dua qirat.” Seoran sahabat bertanya, ‘Apakah dua qirat itu Yaa Rasulullah?’ Rasul menjawab, ‘ Seperti dua gunung yang besar’” (Mutafaq’ Alaih)

            Dari hal diatas dapat disimpulkan bahwa seorang da’i harus dekat dengan orang yang didakwahi bahkan jika bisa, dekat juga dengan keluarganya. Ini merupakan salah satu metode dakwah yang diajarkan oleh Rasulullah SAW. Dengan bersikap lemah lembut pada saudara muslim dan berikap keras terhadap orang kafir.
“Muhammad itu adalah utusan Allah dan orang-orang yang bersama dengan dia adalah keras terhadap orang-orang kafir, tetapi berkasih sayang sesama mereka." (QS. Al-Fath: 29)
Semoga kita semua menjadi salah satu orang yang bersama Rasulullah yang dimaksud dalam ayat tersebut.

Wallahu ‘Alam

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Akuntansi Islam